Home > Kasih Tuhan > Kasih Tuhan – Buah Pengharapan

Kasih Tuhan – Buah Pengharapan

Terdapat suatu relasi yang erat antara suka cita dan pengharapan. Sementara optimisme membuat kita hidup seakan suatu saat akan berlangsung lebih baik untuk kita, pengharapan membebaskan kita dari kebutuhan/keinginan untuk mempredikasi masa depan dan membuat kita mampu menghidupi saat kekinian, dengan kepercayaan yang mendalam bahwa Tuhan tidak akan pernah meninggalkan kita sendirian, sebaliknya Dia akan memenuhi hasrat keinginan hati kita yang paling dalam.

Suka cita dalam perspektif ini adalah buah dari pengharapan. ketika kita mempercayakan diri sepenuhnya bahwa hari ini Tuhan sungguh menyertai kita dan memeluk kita dengan pelukan ilahi yang melindungi, menuntun kita di setiap langkah kita, kita dapat melepaskan kecemasan kekuatiran akan masa depan seperti apa, atau apa yang akan terjadi bulan depan atau tahun depan. Kita saat ini dan menaruh perhatian pada banyak tanda-tanda kasih Tuhan di dalam dan sekitar kita.

Kita sering berkata “dulu…, pada waktu itu…” tetapi ketika kita berpikir kritis tentang masa lalu dan melepaskan ingatan romantis masa lalu, kita akan segera menemukan bahwa pada saat-saat itulah kita sesungguhnya amat mengkhawatirkan tentang masa depan.

Ketika kita percaya sungguh bahwa hari ini adalah hari Tuhan dan bahwa esok hari ada di dalam tangan kasih Tuhan, wajah kita akan relaks cerah ceria dan kita dapat tersenyum kembali pada Dia yang tersenyum kepada kita.

Saya teringat, suatu ketika tengah berjalan di sepanjang pantai bersama seorang teman. Kita berbicara dengan sungguh mendalam tentang relasi kami. Saling membuka diri satu sama lain dan saling memahami perasaan masing-masing. Kami begitu di cengkam oleh pergulatan kami masing-masing, sehingga tak sempat memperhatikan matahari terbenam yang begitu indah di ujung horison seberang lautan.

Tiba-tiba teman saya bersru : “Liat… lihatlah matahari… lihatlah.” Teman saya itu merangkulku dan bersama-sama itu kita menikmati keindahan pemandangan matahari terbenam, bagai bola keemasan yang mulai tenggelam di ujung lautan. Pada saat itu, kami mengerti apa artinya pengharapan dan suka cita.

*Hidup dalam Roh : Kini dan Di Sini – Bersama Henri Nouwen*

  1. raya
    10 April 2011 at 18:37

    kirain bysonnya datang..

  2. 29 August 2011 at 14:48

    suka cita..! kekuatan…!

  3. PMZ
    6 September 2011 at 20:57

    begitu banyak kasihNya yg nyata untuk dirasakan, hanya terkadang saat ada hal yg nyesekin hati, sepertinya semua tertutupi.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: